Entah sejak kapan saya mulai memikirkan siapa pendamping hidup saya, dengan siapa saya akan menikah, apa yang akan saya lakukan ketika sudah berumah tangga, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal seperti itu. Sebelumnya, saya selalu merasa masih kecil, masih harus hidup bersama kedua orangtua berpuluh-puluh tahun ke depan. Seketika saya sadar. Hey, saya sudah dewasa! Saya sudah risih dibatasi jam malam di rumah oleh mama, enggan dipeluk papa, mulai jatuh cinta, dan saat itu juga saya membuang jiwa kekanak-kanakan saya secara perlahan dan menatap masa depan.
Iya, saya bingung sekali harus menyikapi kata "menikah" dengan cara bagaimana. Saya sibuk menerjemahkan keinginan kedua orangtua saya tentang kehidupan saya setelah mereka tiada nanti. Normalnya, mereka menghadap Ilahi duluan, saya belakangan.
Dengan segenap kemampuan otak, saya berhasil mengerti apa yang orangtua saya inginkan. Dan ajaibnya, saya memilih untuk menentukan jodoh saya sendiri. Dear God, I want my 'check-list' husband! Biar saya yang memilih, dan memohon pada Tuhan untuk menjodohkan saya dengan pilihan saya itu.
Menemukan si Aden bukan hal yang mudah. Saya harus berjuang keras melihatnya bersinar di tumpukan jerami. Seperti jarum. Dia ada disana, satu diantara seribu orang yang secara fisik lebih baik. Tapi saya suka caranya bertahan untuk saya. Membiarkan saya mencoba berhubungan dengan orang lain, tanpa jelas melarang. Menunggu saya puas dan menemukan dirinya.
Lalu kenapa judul post ini adalah "Jodoh?" dengan tanda tanya?
Karena saya tidak mau Tuhan menjodohkan saya dengan orang yang tidak bisa saya yakini akan dapat mengerti dan dimengerti oleh saya.
Jodoh adalah pilihan.
Saat kalian saling meyakini dan berhenti mencari jodoh, padahal yang berhubungan kalian bukan jodoh yang sebenarnya, apa jadinya? Kalian tidak akan menemukan jodoh yang ditakdirkan, lalu kalian bersama orang yang kalian yakini sebagai jodoh kalian.
Jelas bahwa jodoh atau tidak jodoh adalah keyakinan. Kompromi dengan diri sendiri dan pasangan untuk memutuskan apa kalian akan menjodohkan diri kalian dengan satu sama lain, atau mencari orang lain lagi. Jodoh tidak akan datang bila tidak dicari, kan?
Saat kalian berhenti mencari ketika sudah menemukan seseorang, dan yakin bahwa ia jodoh kalian, maka jodohlah.
Saya bukan pembangkang sebenarnya. Tapi untuk urusan yang satu ini, saya berusaha menemukan apa yang menurut saya baik.
Well then, I found him :)
Rabu, 04 Agustus 2010
jodoh?
Entah sejak kapan saya mulai memikirkan siapa pendamping hidup saya, dengan siapa saya akan menikah, apa yang akan saya lakukan ketika sudah berumah tangga, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal seperti itu. Sebelumnya, saya selalu merasa masih kecil, masih harus hidup bersama kedua orangtua berpuluh-puluh tahun ke depan. Seketika saya sadar. Hey, saya sudah dewasa! Saya sudah risih dibatasi jam malam di rumah oleh mama, enggan dipeluk papa, mulai jatuh cinta, dan saat itu juga saya membuang jiwa kekanak-kanakan saya secara perlahan dan menatap masa depan.
Iya, saya bingung sekali harus menyikapi kata "menikah" dengan cara bagaimana. Saya sibuk menerjemahkan keinginan kedua orangtua saya tentang kehidupan saya setelah mereka tiada nanti. Normalnya, mereka menghadap Ilahi duluan, saya belakangan.
Dengan segenap kemampuan otak, saya berhasil mengerti apa yang orangtua saya inginkan. Dan ajaibnya, saya memilih untuk menentukan jodoh saya sendiri. Dear God, I want my 'check-list' husband! Biar saya yang memilih, dan memohon pada Tuhan untuk menjodohkan saya dengan pilihan saya itu.
Menemukan si Aden bukan hal yang mudah. Saya harus berjuang keras melihatnya bersinar di tumpukan jerami. Seperti jarum. Dia ada disana, satu diantara seribu orang yang secara fisik lebih baik. Tapi saya suka caranya bertahan untuk saya. Membiarkan saya mencoba berhubungan dengan orang lain, tanpa jelas melarang. Menunggu saya puas dan menemukan dirinya.
Lalu kenapa judul post ini adalah "Jodoh?" dengan tanda tanya?
Karena saya tidak mau Tuhan menjodohkan saya dengan orang yang tidak bisa saya yakini akan dapat mengerti dan dimengerti oleh saya.
Jodoh adalah pilihan.
Saat kalian saling meyakini dan berhenti mencari jodoh, padahal yang berhubungan kalian bukan jodoh yang sebenarnya, apa jadinya? Kalian tidak akan menemukan jodoh yang ditakdirkan, lalu kalian bersama orang yang kalian yakini sebagai jodoh kalian.
Jelas bahwa jodoh atau tidak jodoh adalah keyakinan. Kompromi dengan diri sendiri dan pasangan untuk memutuskan apa kalian akan menjodohkan diri kalian dengan satu sama lain, atau mencari orang lain lagi. Jodoh tidak akan datang bila tidak dicari, kan?
Saat kalian berhenti mencari ketika sudah menemukan seseorang, dan yakin bahwa ia jodoh kalian, maka jodohlah.
Saya bukan pembangkang sebenarnya. Tapi untuk urusan yang satu ini, saya berusaha menemukan apa yang menurut saya baik.
Well then, I found him :)
Iya, saya bingung sekali harus menyikapi kata "menikah" dengan cara bagaimana. Saya sibuk menerjemahkan keinginan kedua orangtua saya tentang kehidupan saya setelah mereka tiada nanti. Normalnya, mereka menghadap Ilahi duluan, saya belakangan.
Dengan segenap kemampuan otak, saya berhasil mengerti apa yang orangtua saya inginkan. Dan ajaibnya, saya memilih untuk menentukan jodoh saya sendiri. Dear God, I want my 'check-list' husband! Biar saya yang memilih, dan memohon pada Tuhan untuk menjodohkan saya dengan pilihan saya itu.
Menemukan si Aden bukan hal yang mudah. Saya harus berjuang keras melihatnya bersinar di tumpukan jerami. Seperti jarum. Dia ada disana, satu diantara seribu orang yang secara fisik lebih baik. Tapi saya suka caranya bertahan untuk saya. Membiarkan saya mencoba berhubungan dengan orang lain, tanpa jelas melarang. Menunggu saya puas dan menemukan dirinya.
Lalu kenapa judul post ini adalah "Jodoh?" dengan tanda tanya?
Karena saya tidak mau Tuhan menjodohkan saya dengan orang yang tidak bisa saya yakini akan dapat mengerti dan dimengerti oleh saya.
Jodoh adalah pilihan.
Saat kalian saling meyakini dan berhenti mencari jodoh, padahal yang berhubungan kalian bukan jodoh yang sebenarnya, apa jadinya? Kalian tidak akan menemukan jodoh yang ditakdirkan, lalu kalian bersama orang yang kalian yakini sebagai jodoh kalian.
Jelas bahwa jodoh atau tidak jodoh adalah keyakinan. Kompromi dengan diri sendiri dan pasangan untuk memutuskan apa kalian akan menjodohkan diri kalian dengan satu sama lain, atau mencari orang lain lagi. Jodoh tidak akan datang bila tidak dicari, kan?
Saat kalian berhenti mencari ketika sudah menemukan seseorang, dan yakin bahwa ia jodoh kalian, maka jodohlah.
Saya bukan pembangkang sebenarnya. Tapi untuk urusan yang satu ini, saya berusaha menemukan apa yang menurut saya baik.
Well then, I found him :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar