Rumit memikirkan ada yang salah diantara kita. Salah yang tidak pernah mau kita komunikasikan. Kamu pikir aku tidak tahu salahku apa, atau kamu tidak tahu apa salahmu.
Lebih dalam dari keheningan ini, ada tanya milikku. Akan sampai kapan duniamu diam? Biarkan aku menangisi sanggahanmu. Karena seharusnya hati ini sudah terganti. Harusnya tidak ada kamu lagi. Harusnya sudah ada yang lain yang mengisi.
Dan dimana kerelevansian kata 'harusnya' waktu aku ingin ini menjadi sejati. Sampai nanti aku mati. Kuhapus berkali-kali tapi nihil.
Ini tetap ada.
Ketakutanku lebih dari itu. Aku tak ingin ini menjadi abadi. Aku ingin rasa ini cepat mati.
Karena hatiku bukan hatimu padaku. Hatiku mengenalmu.
Minggu, 08 Agustus 2010
Friday, October 30, 2009 at 2:15pm
Rumit memikirkan ada yang salah diantara kita. Salah yang tidak pernah mau kita komunikasikan. Kamu pikir aku tidak tahu salahku apa, atau kamu tidak tahu apa salahmu.
Lebih dalam dari keheningan ini, ada tanya milikku. Akan sampai kapan duniamu diam? Biarkan aku menangisi sanggahanmu. Karena seharusnya hati ini sudah terganti. Harusnya tidak ada kamu lagi. Harusnya sudah ada yang lain yang mengisi.
Dan dimana kerelevansian kata 'harusnya' waktu aku ingin ini menjadi sejati. Sampai nanti aku mati. Kuhapus berkali-kali tapi nihil.
Ini tetap ada.
Ketakutanku lebih dari itu. Aku tak ingin ini menjadi abadi. Aku ingin rasa ini cepat mati.
Karena hatiku bukan hatimu padaku. Hatiku mengenalmu.
Lebih dalam dari keheningan ini, ada tanya milikku. Akan sampai kapan duniamu diam? Biarkan aku menangisi sanggahanmu. Karena seharusnya hati ini sudah terganti. Harusnya tidak ada kamu lagi. Harusnya sudah ada yang lain yang mengisi.
Dan dimana kerelevansian kata 'harusnya' waktu aku ingin ini menjadi sejati. Sampai nanti aku mati. Kuhapus berkali-kali tapi nihil.
Ini tetap ada.
Ketakutanku lebih dari itu. Aku tak ingin ini menjadi abadi. Aku ingin rasa ini cepat mati.
Karena hatiku bukan hatimu padaku. Hatiku mengenalmu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar